Tepat memasuki bulan Sya’ban bulan yang sering terlewati begitu saja, kita memiliki kesempatan berharga untuk menyiapkan diri menyambut Ramadhan. persiapan kita seharusnya tidak hanya sebatas menyambutnya dengan suka cita. Lebih dari itu, Ramadhan layak disambut dengan kesiapan hati, mental, serta kebiasaan hidup yang lebih tertata. Karena Ramadhan bukan sekadar tentang ibadah di malam hari, tetapi juga bagaimana pagi-pagi kita diisi dengan ketaatan dan kesungguhan mendekat kepada Allah ﷻ.
Seperti rutinitas pagi yang masih berantakan: bangun terburu-buru, menunda salat Subuh, lupa dzikir, dan memulai hari tanpa niat ibadah. Padahal, belum terlambat untuk memperbaikinya dari sekarang. Justru bulan-bulan sebelum Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melatih diri agar ketika Ramadhan datang, kita sudah siap dan mampu memaksimalkannya.
Memperbaiki Rutinitas Sejak Sekarang
Ramadhan yang maksimal dimulai dari pagi hari. Membiasakan bangun lebih awal, melaksanakan salat Subuh di awal waktu, dan tidak meninggalkan amalan sunnah adalah bentuk latihan yang sangat berharga.
Beberapa kebiasaan yang bisa mulai dilatih:
- Salat Subuh di awal waktu, melaksanakan qabliyah subuh, bersalawat.
- Membaca Al-Qur’an, meski hanya beberapa ayat, namun dilakukan secara konsisten.
- Tahajud, walau dua rakaat, sebagai bentuk kedekatan dan pengaduan diri kepada Allah.
- Memperbanyak dzikir pagi, memohon perlindungan dan keberkahan dalam menjalani hari.
- Mengamalkan doa dan salat Dhuha sebelum memulai aktivitas.
Dengan membiasakan hal-hal tersebut sebelum Ramadhan, insyaAllah kita tidak akan merasa berat ketika memasuki bulan suci. Justru Ramadhan akan terasa lebih ringan dan penuh makna.
Melatih Jiwa dan Fisik Menyambut Ramadhan
Puasa Ramadhan bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga latihan jiwa. Karena itu, persiapan mental dan fisik perlu berjalan beriringan.
Amalan yang bisa melatih jiwa dan fisik di bulan-bulan sebelum Ramadhan antara lain:
- Membiasakan puasa sunnah, seperti puasa Senin–Kamis atau Ayyamul Bidh.
- Menjaga lisan, mengurangi keluhan, ghibah, dan ucapan sia-sia.
- Melatih kesabaran, terutama saat lelah, atau menghadapi hal yang tidak sesuai harapan.
- Menjaga pola makan dan istirahat, agar tubuh lebih siap menjalani puasa sebulan penuh.
- Memperbanyak sedekah, sebagai latihan keikhlasan dan empati terhadap sesama.
Menikmati dan Memperbaiki Salat Sebagai Inti Persiapan
Dalam setiap persiapan menuju Ramadhan, salat adalah pondasi utama yang tidak boleh diabaikan. Sudah saatnya kita jujur pada diri sendiri: masihkah salat kita dilakukan dengan terburu-buru? Seakan ingin cepat selesai, seolah enggan berlama-lama menghadap Allah ﷻ.
Padahal, Allah-lah yang memberi kita kehidupan, rezeki, kesehatan, dan segala kebaikan yang sering kali tak terhitung. Maka sungguh pantas jika kita merasa malu, ketika salat dilakukan tanpa kekhusyukan, tanpa ketenangan, dan tanpa rasa rindu untuk bertemu dengan-Nya.
Mulai sekarang, mari belajar menikmati salat. Karena memperbaiki hidup dimulai dari memperbaiki salat. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa siapa yang senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya. Dan pertemuan itu salah satunya hadir dalam salat.
Latih diri kita untuk:
Rukuk dengan tenang, meresapi setiap bacaan dan penghambaan.Sujud dengan nyaman, sebagai posisi terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya Salat dengan tumakninah, tidak tergesa-gesa, tidak sekadar menggugurkan kewajiban.
Jika salat sudah menjadi tempat paling menenangkan, maka Ramadhan akan terasa lebih hidup. Ibadah lainnya pun akan mengikuti dengan lebih ringan dan penuh makna.
Doa Menyambut Datangnya Ramadhan
Sebagai penutup persiapan, mari iringi ikhtiar kita dengan doa. Doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ رَبِّى وَرَبُّكَ اللَّهُ
Allahumma ahlilhu ‘alayna bil-yumni wal-īmāni was-salāmi wal-Islāmi, Rabbi wa rabbuka Allah.
“Ya Allah hadirkanlah kepada kami bulan (Ramadhan) ini dengan keberkatan, keimanan, keamanan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” (HR. Tirmidzi).
Semoga kami mampu memaksimalkan ibadah bukan hanya di malam hari, tetapi juga sejak pagi hingga akhir hari, dan semoga kebaikan ini terus berlanjut setelah Ramadhan berlalu Karena sejatinya, Ramadhan bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari kehidupan yang lebih taat dan terjaga hingga seterusnya.
Tulisan ini tentu belum mencakup seluruh bentuk persiapan diri dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Apabila terdapat kekurangan, kami memohon maaf. Semoga tulisan ini dapat menjadi pengingat dan penyemangat bagi kita semua untuk menyambut Ramadhan dengan hati yang lebih siap.




