Kebaikan yang Menghadirkan Kebaikan Berikutnya

Setiap kita tentu berharap amal kebaikan yang dilakukan diterima oleh Allah SWT. Namun para ulama menjelaskan bahwa diterimanya amal tidak hanya terlihat dari apa yang kita  lakukan saat itu, tetapi dari apa yang terjadi setelahnya.

Seorang ulama besar, Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali, berkata:

“Sesungguhnya Allah apabila menerima amal kebaikan seorang hamba, maka Dia akan memberikan taufik kepadanya untuk melakukan amal saleh setelahnya. Barang siapa melakukan suatu kebaikan lalu ia melakukan kebaikan setelahnya, maka itu adalah tanda diterimanya amal yang pertama. Sebaliknya, barang siapa melakukan kebaikan lalu setelahnya melakukan keburukan, maka itu adalah tanda ditolaknya amal tersebut.”

Perkataan ini menjadi pengingat yang dalam bagi setiap Muslim. Kebaikan yang diterima oleh Allah akan melahirkan kebaikan berikutnya. Hati yang diberi taufik akan terus digerakkan menuju amal saleh, bukan justru kembali pada kelalaian.

Amal kebaikan bukan sekadar perbuatan sesaat. Ia seharusnya menjadi jalan yang membuat hati semakin dekat kepada Allah. Ketika seseorang shalat, bersedekah, membaca Al-Qur’an, atau melakukan kebaikan lainnya, maka seharusnya kebaikan itu mendorongnya untuk terus memperbaiki diri.

Sebaliknya, jika setelah melakukan kebaikan seseorang justru kembali pada maksiat dan kelalaian, maka itu menjadi peringatan bagi dirinya untuk kembali memperbaiki niat dan amalnya.

Hakikat Manusia yang Membutuhkan Allah

Istiqomah dalam kebaikan bukanlah perkara mudah. Tidak ada manusia yang mampu melakukannya hanya dengan kekuatan dirinya sendiri. Semua membutuhkan pertolongan dan taufik dari Allah SWT.

Allah berfirman:

“Wahai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
(QS. Fathir: 15)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap langkah menuju kebaikan adalah karena pertolongan Allah. Tanpa bimbingan-Nya, manusia sangat mudah tergelincir oleh hawa nafsu dan godaan dunia.

Menjaga Amal dengan Istiqomah

Istiqomah bukan berarti seseorang tidak pernah jatuh dalam kesalahan, tetapi ia selalu kembali kepada kebaikan dan tidak berhenti memperbaiki diri. Amal yang dicintai oleh Allah adalah amal yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun kecil.

Karena itu, setelah melakukan satu kebaikan, jangan berhenti di sana. Lanjutkan dengan kebaikan lainnya. Jika hari ini kita membaca Al-Qur’an, maka besok kita berusaha membacanya lagi. Jika hari ini kita bersedekah, maka esok kita mencoba kembali berbagi.

Dari kebiasaan kecil inilah lahir istiqomah yang menjaga iman tetap hidup.

Penutup

Istiqomah dalam kebaikan adalah karunia besar dari Allah SWT. Ketika seseorang dimudahkan untuk terus melakukan amal saleh setelah amal saleh lainnya, itu bisa menjadi tanda bahwa Allah menerima kebaikan yang telah ia lakukan.

Karena itu, jangan hanya fokus pada melakukan kebaikan sekali saja. Jagalah amal itu dengan kebaikan berikutnya.

Sebab kebaikan yang diterima oleh Allah tidak berhenti pada satu langkah, tetapi akan terus menuntun seorang hamba menuju kebaikan-kebaikan berikutnya.

Bagikan